Pembekalan Pendampingan Kaum Marginal dan Anak Disabilitas Gelombang II Digelar di Rawinala

Pembekalan Pendampingan Kaum Marginal dan Anak Disabilitas Gelombang II Digelar di Rawinala
Jakarta, 9 Mei 2026 — Pokja Diakonia HKBP Distrik VIII DKI Jakarta melalui Divisi Kaum Marginal, Anak, dan Disabilitas kembali menggelar kegiatan Pembekalan Pendampingan bagi Kaum Marginal dan Anak Disabilitas Gelombang II di Panti Karya Dwituna Rawinala, Condet, Jakarta Timur, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari pembekalan gelombang pertama yang telah dilaksanakan pada 25 April 2026 lalu.


Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari dan diawali dengan ibadah singkat yang dilayani oleh Pdt. Anggiat Hutabarat, S.Th., selaku PIC Disabilitas. Ibadah berlangsung khidmat dan menjadi dasar rohani bagi seluruh rangkaian pembekalan.

Usai ibadah, Ketua Pokja Diakonia HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, St. Rusman Sagala, menyampaikan sambutan sekaligus memperkenalkan jajaran panitia Pokja Diakonia. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Pokja Diakonia telah menjalankan sejumlah program pelayanan, di antaranya kegiatan penanaman pohon di Gunung Salak serta pengembangan Centra Diakonia HKBP Distrik VIII DKI Jakarta “DD8 Prelove”.

Menurutnya, pembekalan pendamping disabilitas ini menjadi agenda ketiga yang diharapkan mampu mendorong gereja-gereja HKBP semakin siap melayani jemaat berkebutuhan khusus melalui para pendamping yang telah dibekali secara khusus.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan pengurus Rawinala serta penampilan anak-anak Rawinala yang memberikan kesan mendalam dan menyentuh hati seluruh peserta.

Dalam sesi materi, Rev. Masriany Sihite, M.Th., M.A., membawakan topik mengenai Paradigma dan Teologi Disabilitas. Melalui pemaparan tersebut, peserta diajak memahami pelayanan disabilitas dari perspektif iman, kasih, dan penerimaan Kristus terhadap semua orang tanpa terkecuali.

Materi berikutnya disampaikan oleh Rini Prasetyaningsih yang membahas pengenalan karakter anak disabilitas, khususnya anak dengan autisme dan tunanetra. Para peserta juga dibekali keterampilan dasar Orientation and Mobility (OM), yakni kemampuan penting dalam mendampingi penyandang disabilitas agar dapat bergerak dan beraktivitas secara aman dan mandiri.

Sebagai bagian dari praktik pembelajaran, peserta mengikuti simulasi menggunakan blindfold untuk merasakan secara langsung tantangan yang dihadapi penyandang tunanetra. Dalam simulasi tersebut, peserta berjalan menuju ruang makan, mencuci tangan, mengambil makanan, hingga makan dalam kondisi mata tertutup dan dipandu oleh pendamping.

Pengalaman tersebut memberikan pemahaman nyata tentang pentingnya empati, cara menyapa, mendampingi, menyentuh dengan hati, serta membangun rasa aman bagi penyandang disabilitas.
Rangkaian kegiatan hari itu ditutup dengan sesi refleksi yang dipimpin oleh Rev. Masriany Sihite, M.Th., M.A. Dalam refleksi tersebut, peserta diajak merenungkan kembali panggilan pelayanan gereja kepada kaum disabilitas dengan hati yang penuh kasih dan kepedulian.

Pembekalan ini merupakan bagian dari pelatihan yang dilaksanakan dalam tiga gelombang, yakni pada 25 April, 9 Mei, dan 30 Mei 2026.
Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Pdt. Oloan Nainggolan, S.Th., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Praeses menegaskan bahwa pelatihan dasar pendampingan disabilitas merupakan kegiatan yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan gereja, khususnya dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan HKBP.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala dan seluruh penyelenggara kegiatan atas komitmen mereka dalam menghadirkan edukasi dan pelatihan yang bermanfaat bagi gereja.
“Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi informan di gereja masing-masing bahwa Yayasan Rawinala juga menyediakan pelatihan bagi pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Praeses.

Lebih lanjut, melalui Pokja Diakonia, Praeses juga mengimbau seluruh jemaat HKBP agar mengutus 1–2 orang dari setiap gereja untuk mengikuti pelatihan serupa. Diharapkan, gereja semakin mampu menjadi komunitas yang inklusif, di mana kaum disabilitas dapat merasakan kasih, perhatian, serta keterlibatan nyata dalam kehidupan bergereja.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bpk. Jonna Aman Damanik selaku Komisioner Komisi Nasional Disabilitas. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pembekalan ini menjadi bukti nyata bahwa HKBP sejalan dengan pemerintah dalam memperhatikan dan memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.
Ia juga menyoroti masih adanya rasa malu dalam sebagian masyarakat Batak untuk terbuka mengenai anggota keluarga atau anak yang memiliki kebutuhan khusus.

“HKBP sebagai gereja besar harus menjadi garda terdepan dalam menghadirkan kepedulian kepada kaum disabilitas. Jangan sampai ada keluarga yang merasa sendiri atau malu untuk terbuka,” ungkapnya.
Sebagai simbol dukungan dan kerja sama pelayanan, panitia bersama Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta menyerahkan baju pelatihan kepada Bpk. Jonna Aman Damanik sebagai tanda sinergi dan kesiapan untuk saling mendukung dalam pelayanan pendampingan disabilitas di lingkungan HKBP.
Turut hadir dalam kegiatan ini jajaran pengurus Pokja Diakonia HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, di antaranya Koordinator Divisi Ekonomi Kreatif dan UMKM, St. Barita boru Napitupulu, bersama para pengurus lainnya.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata panggilan gereja untuk menghadirkan kasih Kristus bagi semua orang tanpa terkecuali, sekaligus memperkuat pelayanan inklusif di tengah kehidupan bergereja.