Pembekalan Pendampingan Kaum Marginal dan Anak Disabilitas Digelar Tiga Hari di Rawinala

 Pembekalan Pendampingan Kaum Marginal dan Anak Disabilitas Digelar Tiga Hari di Rawinala

Pembekalan Pendampingan Kaum Marginal dan Anak Disabilitas Digelar Tiga Hari di Rawinala

Jakarta, 25 April 2026 — Pokja Diakonia HKBP Distrik VIII DKI Jakarta melalui Divisi Kaum Marginal, Anak, dan Disabilitas menggelar kegiatan pembekalan pendampingan bagi kaum marginal dan anak disabilitas selama tiga hari di Panti Karya Dwituna Rawinala, Condet, Jakarta Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen gereja dalam menghadirkan pelayanan yang inklusif bagi seluruh jemaat tanpa terkecuali.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari, diawali dengan ibadah singkat yang dilayani oleh Pdt. Anggiat Hutabarat, S.Th., selaku PIC Disabilitas. Ibadah berlangsung khidmat dan menjadi dasar spiritual bagi seluruh rangkaian kegiatan pembekalan.

Ibadah singkat yang dilayani oleh Pdt. Anggiat Hutabarat, S.Th., selaku PIC Disabilitas.

Acara pembukaan dibuka oleh Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta yang diwakili Kepala Bidang (KaBid) Diakonia, Pdt. Operancis Simanungkalit, S.Th. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kehadiran gereja dalam menjangkau dan mendampingi kaum disabilitas sebagai bagian utuh dari tubuh Kristus, serta mendorong jemaat untuk semakin peduli dan terlibat aktif dalam pelayanan inklusif.

Acara pembukaan secara resmi dibuka oleh Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta yang diwakili Kepala Bidang (KaBid) Diakonia, Pdt. Operancis Simanungkalit, S.Th.

Seusai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Divisi Pendampingan Kaum Marginal dan Disabilitas, St. Ev. drg. Nani Samosir, bersama jajaran pengurus Pokja Diakonia. Acara kemudian diisi dengan sambutan dari pihak Rawinala serta penampilan anak-anak Rawinala yang memberikan kesan mendalam bagi para peserta.

sambutan dari Koordinator Divisi Pendampingan Kaum Marginal dan Disabilitas, St. Ev. drg. Nani Samosir, bersama jajaran pengurus Pokja Diakonia.

Pada sesi materi, Rev. Masriany Sihite, M.Th., M.A., menyampaikan topik Paradigma dan Teologi Disabilitas, yang mengajak peserta memahami pelayanan disabilitas dalam perspektif iman dan kasih Kristus. Selanjutnya, Rini Prasetyaningsih membawakan materi Mengenal Karakter Anak Disabilitas, khususnya autisme dan tunanetra, sekaligus memberikan pelatihan keterampilan dasar Orientasi dan Mobilitas (OM). Keterampilan ini dinilai penting bagi penyandang disabilitas maupun para pendamping agar proses mobilisasi dapat dilakukan secara efektif dan aman.

Sebagai bagian dari pembelajaran praktis, peserta mengikuti simulasi menggunakan blindfold untuk merasakan langsung tantangan yang dihadapi penyandang tunanetra. Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama yang juga dikemas dalam bentuk simulasi keterampilan OM, sehingga peserta memperoleh pengalaman nyata dalam proses pendampingan.

Rev. Masriany Sihite, M.Th., M.A., menyampaikan topik Paradigma dan Teologi Disabilitas.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan refleksi yang dipimpin oleh Rev. Masriany Sihite, M.Th., M.A., bersama Pdt. Anggiat Hutabarat, S.Th., yang mengajak peserta merefleksikan panggilan pelayanan kepada kaum disabilitas dengan hati yang penuh kasih dan empati. Kegiatan ini masih akan berlangsung hingga dua hari ke depan sebagai bagian dari rangkaian pelatihan dalam tiga gelombang, yakni pada 25 April, 9 Mei, dan 30 Mei 2026.

Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Pdt. Oloan Nainggolan, S.Th. menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan momen penting untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelayanan gereja, khususnya dalam pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara atas komitmennya menghadirkan pelatihan yang edukatif dan aplikatif. Praeses mendorong para peserta agar tidak hanya mengikuti kegiatan dengan baik, tetapi juga menjadi perpanjangan informasi di gereja masing-masing.

Pemateri Ibu Ersa Turnip

“Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi informan di gereja masing-masing, bahwa Rawinala juga menyediakan pelatihan bagi pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Melalui Pokja Diakonia, Praeses juga mengimbau seluruh jemaat HKBP agar mengutus 1–2 orang untuk mengikuti pelatihan ini. Diharapkan, gereja semakin mampu menjadi komunitas yang inklusif, di mana kaum disabilitas dapat merasakan kasih, perhatian, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan bergereja.

Kehadiran Praeses dalam kegiatan ini semakin memperkuat komitmen gereja terhadap pelayanan inklusif, sekaligus mendorong sinergi antara gereja dan lembaga pendidikan dalam membangun pelayanan yang holistik bagi semua. Tuhan memberkati.

    Related post