Upaya Pembunuhan Bermotif Mistis, Iri Hati, Cemburu dan Asmara (Bag. 3)

 Upaya Pembunuhan Bermotif Mistis, Iri Hati, Cemburu dan Asmara (Bag. 3)

Penulis: Drs. Tumpal Siagian. Warga HKBP Duren Sawit. Penulis Buku “Keceriaan Masa Pensiun”

Mitigasi dan Jurnalisme Berkeadilan

Kita tidak tahu, kasus seperti apa yang terjadi di masa mendatang.

Kekhawatiran kekerasan dan pembunuhan tampaknya terus berlanjut jelas membutuhkan mitigasi. Selain pemerintah dan penegak hukum/ pengayom masyarakat, peran masyarakat dan media juga dibutuhkan. Fenomena kekerasan dalam keluarga tidak bisa dipandang enteng. Karena ketahanan bangsa ini ada di dalam keluarga-keluarga. Masyarakat berasal dari lapisan terkecil, maka pembenahan berawal dari keluarga. Bila tiap keluarga melahirkan pribadi bahagia, dimana pun berada, apa pun aktivitasnya, dia akan melahirkan kebahagiaan untuk orang lain. Karena itu,peran keluarga dalam mitigasi kekerasan dengan membangun kasih sayang dan toleransi sangat berpengaruh kuat dalam konteks pembangunan karakter bangsa (national character building).

Kehilangan kasih sayang anak dari orang tua menjadi faktor dari kenakalan bagi anak. Mekanisme pengasuhan keluarga yang benar secara kecerdasan rasional (kognitif) dan kecerdasan spritual sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, asistensi dan konsultasi keluarga yang memiliki nilai-nilai spritual keagamaan penting digalakkan.

Untuk menghadapi dunia yang semakin modern, warga masyarakat harus melengkapi dirinya dengan kecerdasan dalam dunia pendidikan formal. Namun,tidak sebatas mentransfer ilmu  membangun kecerdasan kognitif tetapi harus diajarkan pendidikan karakter tentang nilai-nilai keteladanan,keikhlasan, dan toleransi. Peran pemuka-pemuka adat juga diperlukan untuk mengangkat kembali nilai-nilai budaya luhur, adiluhung dan mulia itu. Elite politik dan tokoh masyarakat juga harus memperlihatkan teladan kebaikan sebab perilaku buruk kelompok ini memicu frustrasi masyarakat.

Beragamnya motif pembunuhan membutuhkan perhatian kita semua, mulai dari pelaku politik, birokrat, lembaga kerohanian dan peran media. Kita patut optimis bahwa pemerintah bersama rakyatnya mampu mengawal situasi yang tidak mudah ini. Sebab, masa depan tidak diperkirakan atau diramalkan, melainkan dibentuk sebagai upaya membangun kesadaran bersama.

Dengan kesadaran ini, kita meyakini peran media sangat besar dalam meliput peristiwa dengan pembaruan sumber daya manusianya yang cerdas, berkemampuan, berakhlak mulia dan tangguh serta tentu saja dengan cara jurnalisme berkeadilan. Kepada seluruh pekerja media dan lembaganya agar kembali kepada hakikat kerja jurnalisme tidak mengabaikan tugas mulianya sebagai abdi masyarakat umum.

Produk kerja yang tidak menyesatkan, kembali ke khittah: berfungsi sebagai media pencerahan dengan tidak mengabaikan kode etik jurnalitik dan mencerdaskan yang ujung-ujungnya diharapkan menciptakan masyarakat yang berkeadaban dalam kehidupan bersama di negeri ini. Fokus media harus pada substansi fakta yakni jurnalisme berkeadilan dan tentu ada transparansi didalamnya akan memperjelas dan tak lagi menimbulkan kebingungan dalam masyarakat. Lebih dari itu, agar memandang keutuhan bangsa dan negara ini sebagai keutamaan yang harus diperjuangkan, dengan demikian keagungan kerja jurnalisme berkeadilan dapat dipertahankan dalam memitigasi tindak kekerasan dan upaya pembunuhan. 

Kita diingatkan bahwa upaya pembunuhan sesuai hukum taurat ke-6, sangatlah dibenci Tuhan. Dengan demikian,sangat relevan kita cermati yaitu hikmat sejati yang datang dari atas untuk menuntun kita mengukir kehidupan memuliakan Tuhan.” Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yakobus 3: 17).

(Selesai)

Related post