Tradisi Ziarah Berbingkai Budaya dan Agama (Bagian 3)

 Tradisi Ziarah Berbingkai Budaya dan Agama (Bagian 3)

Penulis: Drs. Tumpal Siagian. Warga HKBP Duren Sawit. Penulis Buku “Keceriaan Masa Pensiun”

Horison dan Mindset Baru

Walau manusia bisa memiliki seluruh bumi karena hartanya yang melimpah ruah,namun ada yang tak bisa ia miliki sepenuhnya yaitu,waktu. Horison dan mindset baru

terkait waktu,Pengkhotbah menegaskan, “Untuk segala sesuatu ada masanya,untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pkh.3:1)

Manusia tak bisa menentukan panjang pendeknya umur,sebab segala sesuatu pada saatnya Tuhan akan meminta pertanggung jawaban atas waktu  yang diberikan dan berakhir pada kematian. Peristiwa kematian merupakan tembok pemisah yang tidak mungkin dilompati atau tidak dapat dilewati dengan cara apapun,maka yang dapat dilakukan manusia adalah meratapi dan menangisinya. Tembok kematian pun menempatkan manusia itu berada di kuburan. Banyak diantara kita kurang cakap dalam menghadapi kesedihan,mengenang sepenggal romantisisme masa lalu sehingga menangis (mangandung) di kuburan. Kita pun tidak perlu mencela,seakan seperti manusia rohani yang berpantang menangis melepaskan kesedihan di kuburan. Segala kesedihan akuilah dengan doa dan sujud ke altar Tuhan di Gereja. Dengan demikianlah,kita melakukan ziarah  kemudian beribadah ke Gereja dan menjelma menjadi tradisi.

Ompu Nommensen melenturkan inteligensi budaya tradisi dengan mengajarkan budaya baru (cross cultural) dan menginternalisasikannya dalam kehidupan masyarakat Batak. Mempermaklumkan ritualnya mendoakan keselamatan,rezeki hingga turut menciptakan harmoni antara budaya/ kearifan lokal yang bermuara pada kekristenan. Kematian bukanlah berakhir di kuburan,sebab Yesus adalah Mesias,Juruselamat manusia yang telah mengalahkan maut. Kita imani Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati, mengalahkan maut,memerdekakan kita dari kuasa dosa dan maut. 

Nommensen pun mengajarkan melakukan tradisi ziarah bersiap menghadapi horison dan mindset baru  bahwa Tuhan kita tidak  tidak pernah tunduk pada kubur dan maut. Kalaupun kita ziarah ke kuburan sekarang ini adalah untuk merenung ulang arti hakiki kematian dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus yang menganugerahkan roh kekuatan,roh keberanian bagi pembentukan manusia baru yang mendinamisasi warga gereja menjadi berkat bagi dunia. 

Bilamana” tempo doeloe” kuburan sarat dengan stigma ketakutan, kesedihan,tempat roh -roh gentayangan,tetapi sekarang diubah menjadi  simbol  kemenangan Kristus atas kuasa maut. Karena itu,sangatlah tepat doksologi yang digelorakan Rasul Paulus di 1 Korintus 15: 55,yang berkata: “Hai maut,dimanakah sengatmu?” Jo hamatean di dia soropmi? 

Kini kita boleh berziarah ke kuburan,karena telah tersedia pengharapan dan jaminan keselamatan yang pasti,yakni kita orang percaya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. 

Tentu saja,setelah kita melakukan ziarah ke kuburan kita tidak boleh lupa beribadah ke Gereja atau Bait Allah,supaya roh kita diliputi kuasa ilahi. Seperti anjuran Rasul Paulus, “Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait Allah,rohku diliputi oleh kuasa ilahi” (Kis.Ras 22: 17).

Merawat iman dengan persekutuan yang tak pernah bisa tergantikan, supaya kita tidak kehilangan spritualitas dalam menjawab dunia sekuler yang berkembang.

Harus diakui,belakangan ini ada fenomena paradoksal,jika kita menelusuri perkembangan gedung gereja di tujuh Kabupaten seputar kawasan Danau Toba (KDT): “Kuburan bersolek, gereja tertinggal. Beberapa gereja tua, sedikit saja yang mengalami perubahan,dibanding semaraknya kuburan mewah. Terlebih dengan tradisi ziarah di masa modern dengan hadirnya anak rantau pulang kampung,bernarasi kukuh untuk pamer keberhasilan, bersiap menghadapi tatanan baru dengan akselerasi keagamaan kontemporer semakin meningkat kedepannya.”

Meski pergeseran paradigmatik kuburan mewah mendapat ruang  kontemporer, pemahaman spritual harus tetap digalakkan untuk mengangkat nilai-nilai sakral dan makna spritual transendental di kekinian zaman. Saat ini kita hidup di ruang waktu era ber-selfie ria pada monumen-monumen kuburan mewah berhadapan dengan kekristenan otentik (na polin) yang tidak begitu terefleksikan di dalam tindakan nyata. Panggung komunikasi publik semakin termediasi oleh begitu banyaknya media,baik konvensional maupun media baru, seperti WhatsApp,Tiktok dan Instagram, dibanjiri foto-foto ziarah  yang diambil  melalui telpon genggam. Jadilah, dunia terlihat datar seperti dikatakan Thomas L Friedman, The World is Flat. Pada titik ini, tradisi ziarah itu terasa indah berbingkai budaya dan agama.

(Selesai)

Related post