Menilik Tantangan dan Harapan Indonesia Emas 2026

 Menilik Tantangan dan Harapan Indonesia Emas 2026

MENILIK TANTANGAN DAN HARAPAN INDONESIA EMAS 2045 Oleh: Drs Tumpal Siagian

Indonesia adalah negara yang penuh paradoks. Kekayaan alam melimpah, tanahnya subur, lautnya luas, dan letaknya strategis. Namun, selama puluhan tahun (81 Tahun Merdeka) kekayaan itu belum sepenuhnya menjelma menjadi kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh rakyat.

Dalam visi Indonesia Emas 2045 kita dibangun di atas narasi “negara besar” dan”negara maju”. Sebuah cita-cita  yang menempatkan Indonesia masuk dalam jajaran kekuatan ekonomi dunia pada  saat merayakan satu abad kemerdekaan Indonesia. Aspirasi ini sah-sah saja. Namun, cita-cita menjadi negara maju jika tidak disertai kerja keras bisa berganti menjadi tragedi yang tak lagi asing.

Benar apa yang dikatakan Karl Marx, sejarah selalu mengulang dirinya sendiri, baik sebagai tragedi maupun lelucon. Realitasnya, takdir bisa berbalik arah dalam menilik Tantangan dan Harapan 2045, seolah “semua jalan menuju Roma”. Takdir seperti itu mempermainkan nasib bangsa.

Kita mendapatkan tiga(3) lensa strategis dalam memahami Tantangan dan Harapan Indonesia Emas 2045 yakni hindsight (melihat masa lampau), insight ( melihat kekinian/ konteks saat ini), dan foresight (menatap masa depan).

Ketiga lensa strategis membantu kita untuk tidak terjebak pada glorifikasi masa lalu atau terperangkap dalam sikap ultranegatif terhadap kondisi saat ini seakan Indonesia akan segera kiamat. Namun juga tidak bersikap optimistik berlebihan atas masa depan, Indonesia Emas 2045.

Kita sibuk membayangkan narasi besar pada 2045, tetapi semakin enggan membicarakan kebijakan hari ini. Gejalanya terlihat dari apa yang disebut Adam Sheingate(2022) sebagai “policy regime decay”- pelapukan rezim kebijakan.

Ada ironi yang tumbuh senyap di pasar kerja kita. Anak muda semakin giat mencari kerja, tetapi pelaku usaha industri mengaku kesulitan menemukan pekerja dengan keterampilan yang mereka butuhkan. Dua kenyataan ini seolah berjalan beriringan. Padahal, masalah pasar kerja kita bukan semata-mata kurangnya keterampilan melainkan belum terhubungnya ( link and match) keterampilan dengan pekerjaan yang tersedia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 sebesar 5,29 year on year(yoy). Bahkan, sejumlah lembaga riset lokal memproyeksikan angka lebih rendah, CORE Indonesia sekitar 4,9 persen, sementara LPEM FEB UI di kisaran 4,80 persen.

Dalam konteks Indonesia perlu dibangun bukan skeptisisme terhadap angka BPS, melainkan kapasitas BPS dan pemerintah untuk menjelaskan mengapa realisasi berbeda signifikan dari ekspektasi.

Anehnya, di balik narasi pertumbuhan tersebut potensi PHK di sektor industri meningkat pula. Kontradiksi ini memperlihatkan sinyal ganda yang membingungkan terhadap nasib buruhnya yang terancam. Kita jadi bertanya, di tengah situasi sekarang ini tentang masalah PHK, bagaimana masyarakat mendanai konsumsi mereka?

Di saat yang sama, sebagaimana diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 dari total 7,22 juta orang penganggur,sebesar 14,31 persen atau sekitar 1 juta jiwa penganggur terdidik lulusan Sarjana ( S1).

Jika kita menyoroti persoalan satu juta penganggur terdidik(S1) ini tidak terlepas dari bagaimana link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja terlihat tidak berjalan baik. Artinya, pasokan lulusan Perguruan Tinggi meningkat tidak diikuti peningkatan permintaan tenaga kerja berpendidikan. Karena struktur permintaan di dalam negeri di dominasi pekerjaan informal atau sektor formal berkeakhlian menengah-rendah. Dampaknya, timbul jobless growth pada pasar tenaga kerja formal  berketerampilan tinggi.

Kapasitas tenaga kerja Sarjana, tetapi tidak digunakan optimal sebagai mesin pertumbuhan menandakan pertumbuhan ekonomi bekerja dibawah kapasitas optimalnya.

Dalam kondisi demikian, pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada tahun 2029 sebagai prasyarat Indonesia keluar dari jebakan middle income trap menjadi negara maju berat atau semakin jauh dari harapan.

Penguatan industri manufaktur bernilai tambah tinggi, jasa modern, ekonomi digital,teknologi, kesehatan, pendidikan, dan sektor berbasis pengetahuan penting untuk meningkatkan permintaan tenaga kerja berpendidikan tinggi.

Jika jumlah penganggur terdidik terus membesar hingga bonus demografi berakhir tahun 2040, Indonesia berisiko mengalami fenomena klasik:”getting old before getting rich” ( menjadi tua sebelum sempat menjadi kaya).

BPS memproyeksikan puncak bonus demografi Indonesia akan berlangsung pada dekade 2030-an. Suatu masa ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif.

Secara teoritis, bonus demografi memberi peluang percepatan pertumbuhan ekonomi karena rendahnya rasio ketergantungan memungkinkan peningkatan tabungan nasional dan investasi produktif. Melimpahnya tenaga kerja, jika diimbangi kualitas pendidikan dan keterampilan memadai, dapat menjadi motor penggerak industrialisasi serta peningkatan per-kapita.

Logika optimistis inilah yang mendasari narasi Indonesia Emas 2045, dengan target keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Namun, logika ini masih dibangun di atas asumsi bahwa sumber daya alam dan ruang lingkungan hidup tersedia dan terpelihara dengan baik. Padahal, kenyataan ekologis  kebakaran hutan dan lahan( karhutla) menunjukkan hal sebaliknya. Tekanan laju deforestasi masih sangat masif, termasuk penyusutan lahan basah dan degradasi kualitas air menyeruak di berbagai wilayah.

Pada akhirnya Indonesia Emas 2045 semestinya dimaknai bukan hanya sekedar target pertumbuhan produk domestik bruto(PDB) dan pendapatan per kapita, melainkan cita-cita tentang kualitas hidup yang berkelanjutan bagi seluruh generasi. Karena itu, keseimbangan antara bonus demografi dan beban ekologi bakal menentukan apakah Indonesia Emas 2045 bakal terwujud utuh atau sekadar menjadi jargon pembangunan.

Tidak berlebihan rasanya kalau kita memikirkan bagaimana keluar dari jebakan Utang dalam APBN kita.

Utang adalah instrumen normal dalam pengelolaan ekonomi. Bahkan dalam kondisi tertentu, utang dapat menjadi alat untuk mempercepat pembangunan. Persoalannya adalah untuk apa utang tersebut digunakan?

Jika utang digunakan untuk membangun infrastruktur produktif, memperkuat energi, pendidikan, kesehatan, industrialisasi dan konektivitas,dalam kondisi demikian, utang menjadi leverage pembangunan.

Sebaliknya, jika utang lebih banyak digunakan untuk membiayai pengeluaran yang manfaat ekonominya rendah dan tidak menghasilkan kapasitas produktif baru, kita menghadapi persoalan berbeda. Kewajiban membayar bertambah, tetapi kemampuan negara menciptakan kesejahteraan masyarakat tidak mengikat sepadan. Setiap pertambahan Utang baru seharusnya diikuti pertanyaan sederhana, berapa tambahan nilai ekonomi dan fiskal  yang dihasilkan oleh Utang tersebut?

Fenomena masyarakat yang makan utang dengan prediksi ekonomi melambat dianggap tidak sejalan dengan ekonomi yang tumbuh.

Di tengah tekanan ekonomi global yang mengimpit  perekonomian,proteksionisme menguat, sementara rivalitas kekuatan-kekuatan besar membuat perdagangan, rantai pasok, investasi, teknologi, dan energi semakin digunakan sebagai instrumen politik. Seringkali kebijakan populis hanya berkutat menjadi komoditas politik elektoral belaka. Padahal, produktivitas boleh jadi tantangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi untuk dilaksanakan bagi kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan produktivitas dalam negeri menjadi kunci sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk naik kelas dari negara berpendapatan menengah (middle income) menjadi negara maju.

Harus diakui sejak dulu hingga sekarang, produktivitas dalam negeri Indonesia relatif rendah. Salah satunya tercermin dari Indeks Total Factor Productivity (TFP)Indonesia yang lebih rendah daripada Asia Tenggara lainnya.

TFP ini menggambarkan dampak ekonomi dari akumulasi atas modal dan teknologi. Jika kita ingin tumbuh lebih tinggi di masa depan, TFP adalah kunci untuk tumbuh secara jangka panjang agar bisa lepas dari middle income trap( jebakan negara berpendapatan menengah).

Ekonomi Indonesia masih bertumpu pada konsumsi, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah. Dana untuk konsumsi rumah tangga perlu dicermati.

Kita tentu perlu mewaspadai apabila benar pinjaman telah digunakan untuk menutup biaya konsumsi masyarakat. Pinjaman yang semula untuk produktif ternyata telah digunakan untuk makan, membeli baju, dan konsumsi lainnya. Maka, mesin pertumbuhan ekonomi yang demikian berdiri di bidang yang sangat rapuh dan berbahaya.

Pembangunan manusia  dan Kerja Keras Menuju Indonesia Emas 2045

Halaman-halaman pertama Kitab Kejadian dalam Alkitab sungguh sangat mencengangkan. Betapa tidak, Taman Firdaus digambarkan bukanlah sebuah istana megah, melainkan sebuah kebun yang bersahaja. Disitu Allah digambarkan pekerja yang sibuk bekerja. Allah adalah Allah yang bekerja dan Ia bekerja untuk manusia. Allah menciptakan sesuatu tanpa bahan, “creatio ex-nihilo”- dari tidak ada menjadi ada.

Dari halaman pertama sampai halaman terakhir Alkitab pun Allah terus bekerja. Allah mengawali pekerjaan-Nya dengan membuat suatu kebun dan Ia mengakhirinya dengan membuat suatu kota ( Kejadian 1 dan Wahyu 21). Karena Allah adalah pekerja, maka kita manusia pun disuruh untuk bekerja.

Dengan demikian, pekerjaan bukan lagi sekadar tugas dan kewajiban melainkan menjadi ibadah syukur kepada Tuhan. Kita tentu akrab dengan semboyan berbahasa Latin Ora et Labora yang berarti,  Berdoa dan Bekerja.

Pada akhirnya kualitas kehidupan suatu bangsa dipengaruhi derajat spritualitas, kerja keras (ilmu, dan teknologi) dan hikmat.

Kita jangan meninggalkan jalan hikmat. “Bukankah  hikmat berseru-seru, dan kepandaian mendengarkan suara-Nya?” (Amsal 8:1) Ingat, jalan orang fasik tampak menguntungkan, tetapi itu hanya sesaat dan perlahan akan menghancurkan diri sendiri. “Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan” ( Amsal 23:12).

Adalah pemikiran yang salah jika kita mengira bahwa Tuhan itu baik hanya kepada satu golongan atau hanya kepada Agama tertentu,  padahal kenyataannya, “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap yang dijadikan-Nya”(Mazmur 145:9).

Kita bangsa Indonesia yang terdiri dari suku,agama, ras dan antar golongan yang beraneka ragam, namun warna darah kita sama. Kita berbeda-beda tetapi kita berkerabat dan bersahabat dalam suatu keluarga besar yang bernama  NKRI.

Bung Karno pada tahun 1933, menyebut kemerdekaan sebagai “jembatan emas”. Di seberang jembatan itulah masyarakat yang kita cita-citakan itu berada.

Cita-cita merupakan harapan bersama yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Seratus tahun kemudian yaitu pada Tahun 2045 adalah Indonesia Emas, masyarakat adil dan makmur yang menjadi harapan kita semua.

Dari jejak kolonial, Indonesia memiliki kekayaan alam mulai dari rempah-rempah hingga sumber daya alam (SDA) berupa tambang. Kekayaan yang semula berasal dari minyak, gas, nikel, bauksit, batubara hingga emas. Bahkan, negara kita menghabiskan limpahan uang dari komoditas SDA itu, untuk membiayai belanja pemerintah dan subsidi.

Nilai SDA tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil di tambang, tetapi juga oleh bagaimana hasilnya dikelola, diinvestasikan dan diwariskan menjadi modal awal sumber kemakmuran jangka panjang.

Di balik apresiasi terhadap performa SDA yang melimpah diatas, harus disadari bahwa suatu hari nanti akan habis sehingga berhenti berproduksi. Pertanyaannya, apakah cita-cita Indonesia Emas 2045 menjadi harapan kita bersama bisa terwujud ?

Kita, Indonesia, kaya akan warisan budaya, mitologi, dan tradisi. Negeri yang subur, gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman, dimana kepulauan ini dijuluki Swarnadwipa, atau Pulau Emas. Di ujung Sumatera  ada gas, di tengahnya  Riau, ada minyak .Di Sulawesi ada nikel, di Papua emas bergelimpangan, tapi anak bangsa mencari pekerjaan ke luar negeri menjadi pekerja migran hanya untuk mencari makan.

Kini, Indonedia tidak dapat lagi bergantung pada jalur perdagangan konvensional. Kita perlu memperluas ruang gerak dengan menemukan pasar, membangun jaringan, dan tersambung ke pusat konektivitas baru. Ini adalah cara melihat peta dunia melalui konektivitas : pasar, pelabuhan, jalur laut, pusat keuangan, kawasan industri, dan simpul logistik. Mulai dari Samudera Hindia, Selat Hormuz, Teluk Aden, Laut Merah, Terusan Suez, hingga Laut Mediteriana; terbentang ruang ekonomi yang belum sepenuhnya terhubung.

Israel, seperti Indonesia adalah bangsa yang lahir dari peradaban kuno. Perbedaannya, terletak pada cara mereka membingkai sejarah dan warisan.Dalam narasi mereka, Israel bukan hanya negara, Ia adalah pemenuhan janji ilahi: bangsa yang dijanjikan, dan umat pilihan.

Dalam narasi ini, tanah yang mereka pijak adalah tanah yang telah mereka dambakan selama ribuan tahun karena telah dijanjikan Allah kepada nenek-moyang mereka. Ini bukan hanya cerita religius, tetapi narasi geopolitik yang sangat strategis. Bangsa yang kecil dengan inovasi besar. Narasi inilah yang memungkinkan Israel bertahan di tengah tekanan luar biasa dari negara-negara di sekitarnya.

Di titik ini, ekosistem pengetahuan  tidak sekadar “cangkang epistemik”- struktur wacana yang terlihat megah dari luar, tetapi kering dari keberpihakan pada keadilan substantif.

Sementara bangsa Indonesia sebelum merdeka mengalami dehumanisasi secara kolektif dan kebudayaan akibat penjajahan yang berlangsung sangat lama. Manusia Indonesia saat itu tidak memiliki harkat dan martabat di hadapan penjajah. Rakyat  di negeri yang kaya raya ini, selain dijarah sumber daya alam/SDA-nya, mentalitas dan kehidupannya dihancurkan. Dipecah-belah, di diskriminasi, ditindas dan diperlakukan sebagai manusia rendahan.

Rakyat Indonesia akibat penjajahan menjadi bangsa yang miskin, bodoh, tertinggal, dan bermental buruk dalam stigma inlander.

Penduduk bumiputra menurut Prof Koentjaningrat (1974) bermental rendah diri, jiwa budak, dan bebal. Manusia Indonesia memiliki mentalitas suka meremehkan mutu, menerabas, tidak percaya diri, tidak berdisplin, dan suka mengabaikan tanggung jawab.

Mochtar Lubis (1977) menyebut mentalitas buruk orang Indonesia seperti, munafik, feodal, percaya takhayul, lemah karakter, dan tidak bertanggung jawab.

Karena itu, bangsa ini membutuhkan transformasi berupa lompatan dari alam pikiran mistis ke fungsional yang rasional dan modern ke level lebih tinggi dengan hadirnya akal imitasi/Artificial Inteligence atau AI.

Pemerintah Indonesia begitu optimistis dengan peran AI atau akal imitasi karena sudah masuk ke hampir semua  relung kehidupan manusia, ikut mendorong masa depan generasi Emas 2045. Pemerintah Indonesia begitu optimistis dengan peran AI di era big data sekarang ini dalam pemuatan literasi, numerasi, dan penalaran. AI tidak lagi sekadar menjadi alat, tetapi berkembang menjadi logika yang mengorganisasi kehidupan manusia dengan kreatif dan bertanggung jawab. Sasarannya, membangun sistem pengetahuan masyarakat agar berorientasi pada keadaban dan kemajuanj hidup bersama. Masyarakat Indonedia mesti hidup semakin cerdas yang dicirikan oleh meluasnya tradisi membaca, bernalar kritis, menguasai ilmu dan teknologi sekaligus mendorong peradaban unggul sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berkemajuan modern di level tinggi. Segala pembodohan di ruang publik, mesti dihentikan. Keserakahan dan kerakusan manusia untuk mengisi kantong sendiri dengan tindakan Korupsi, Kolusi dan nepotisme/ KKN wajib diberantas bersama, karena inilah wabah paling berbahaya.

Menilik Tantangan dan Harapan Indonesia Emas 2045, disinilah paradoks sekaligus peluang transformasi pembangunan ekonomi. Ruang ekonomi sangat besar dan sumber daya melimpah; kita memiliki posisi geografis, jaringan logistik, dan akses ke pasar regional yang lebih luas, tetapi kita kurang dalam literasi dan numerasi. Jika pembangunan manusia melalui ilmu pengetahuan, teknologi dan etos kerja  berhasil dipulihkan  sebagai instrumen pembebas menjadi fondasi bagi lahirnya  tatanan sosial yang berkemajuan, demokratis dan berkeadilan. Hanya dengan fokus pada kualitas SDM dan bekerja keraslah kita menunjukkan kebesaran bangsa kita.

Tanpa upaya kearah itu, visi besar Indonesia Emas 2045 akan kehilangan  daya magis untuk meyakinkannya.

    Related post