Ka.Dep Koinonia HKBP Pdt. Deonal Sinaga : “Berdiri Teguh Adalah Pendirian.”

 Ka.Dep Koinonia HKBP Pdt. Deonal Sinaga : “Berdiri Teguh Adalah Pendirian.”

Pdt.Deonal Sinaga Kadep Koinonia HKBP

“BERDIRI TEGUH…!” Sahabat yang baik hati, selamat hari Minggu dan berdirilah Teguh dalam Kristus! Firman Tuhan pada Minggu XXI Setelah Trinitatis hari ini (2 Tes. 2: 13-16) mengingatkan setiap orang percaya supaya berdiri teguh dalam ajaran Kristus. Memperlengkapi diri untuk menghadapi tantangan, godaan, dan ajaran sesat adalah modal utama untuk bertahan dan bertumbuh dalam kebenaran Injil Yesus Kristus!

Berdiri teguh adalah pendirian. Berdiri teguh adalah pilihan. Berdiri teguh adalah keputusan personal. Berdiri teguh adalah sikap terhadap sesuatu hal. Itu lahir dari kesadaran penuh dan kesediaan menerima segala konsekuensi. Termasuk konsekuensi terburuk. Berdiri teguh berarti berani menyaksikan apa yang diyakini sebagai kebenaran.

Orang yang berdiri teguh adalah orang bebas. Bebas dari tekanan, bebas dari godaan, bebas dari ancaman. Pengaruh dan kekuatan eksternal tidak mampu memenjarakan dia. Bahkan sekali pun dia dipenjara, namun roh dan pikirannya tidak terpenjara.

Salah satu ungkapan pendirian seperti ini dalam catatan sejarah keluar dari mulut seorang hamba Tuhan. “Here I stand – Di sini Aku berdiri.” Martin Luther menyatakan ini bukanlah karena gagah-gagahan. Bukan karena sombong dan angkuh. Bukan dengan maksud merendahkan yang lain. Sebaliknya, dengan kerendahan hati dan dengan pergumulan mendalam (marungkil situtu).

Dalam Minggu ini kita mengingat peristiwa yang terjadi dalam gereja 505 tahun yang lalu. Tepatnya 31 Oktober 1517 ketika Martin Luther menempelkan 95 Dalil Reformasi di pintu gereja Wittenberg – Jerman. Itulah yang menjadi titik awal gerakan reformasi. Dia menuliskan ajaran-ajaran yang mengkritisi penyimpangan dan ajaran gereja yang menyesatkan. Dia menyuarakan kebenaran Alkitab dan mengajak umat Kristen supaya kembali pada kebenaran.

Namun apa boleh dikata. Sekali pun yang dia suarakan adalah kebenaran Firman Tuhan, bukan berarti semua orang bisa terima. Terutama pimpinan gereja kala itu merasa gerah dan terancam dengan dalil-dalil dan buku-buku yang dia tuliskan. Mereka merasa kebakaran jenggot. Bahkan mereka berupaya melumpuhkan Martin Luther dan gerakan pembaharuan yang sedang berlangsung. Mereka tidak segan-segan mengancam bahkan melakukan kekerasan kepada dia dan para pengikutnya.

Gerakan reformasi sudah tidak terbendung. Semakin banyak pastor dan umat Kristen yang mengikuti dia. Pemimpin gereja juga tak mau kalah. Mereka berupaya menghentikan dia, termasuk membujuk dia untuk menarik ajaran-ajarannya dan meminta maaf. Terjadilah pertemuan di kota Worms – Jerman pada bulan Januari 1521, yang dikenal dengan ‘The Diet of Worms.’

Pada kesempatan itu, dengan jaminan keamanan melalui Frederick III, Martin Luther dihadirkan. Perwakilan pimpinan gereja mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai ajaran dan buku-bukunya yang sudah tersebar luas dan meminta dia untuk menarik pengajaran dan tulisan-tulisannya.

Setelah berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan pergumulan yang sangat berat (marungkil situtu) dia mengakui: bahwa sesungguhnya Dialah yang menuliskan dalil-dalil dan buku-buku itu; bahwa dia menentang ajaran sesat dan kepalsuan yang ditunjukkan gereja dan kepausan. Dan akhirnya dia katakan, “Here I stand – I can not do otherwise. God help me!” Artinya, ‘Disini aku berdiri – Aku tidak bisa lakukan yang lain. Tuhan tolong aku.”

Pernyataan ini menjadi simbol posisi Martin Luther yang berdiri teguh pada apa yang dia yakini sebagai kebenaran. Itulah kristalisasi dan manifestasi pembacaan, penelaahan, dan perenungan mendalam akan Firman Tuhan yang tertulis dalam Perjanjian Lama dan perjanjian Baru. Itu adalah jawaban doa-doanya. Dan itulah keputusannya dalam sisa hidupnya, yang tidak bisa diganggu-gugat oleh kekuatan apa pun di dunia ini.

Berdiri teguh dalam ajaran Yesus Kristus. Itulah yang dinasehatkan Rasul Paulus kepada jemaat orang-orang Tesalonika. Bagi Paulus, seperti yang dia hidupi, bahwa seorang pengikut Kristus tidak boleh suam-suam kuku. Seperti Firman Tuhan kepada jemaat di Laodikia, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Why. 3: 16).

Orang yang bimbang dan ragu tidak layak bagi Tuhan. “No turning back.” Sekali memutuskan mengikut Yesus, tak boleh ingkar. Siap sedia menerima konsekuensi keputusan itu. Berdiri teguh dan jangan goyah! “Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan.”

Pemilihan Allah itu bukan main-main. Allah telah dengan sengaja memilih kita untuk diselamatkan. Untuk beroleh kemuliaan Yesus Kristus. Untuk hidup dalam kebenaran. Melalui pemberitaan Injil, Allah memberikan yang terbaik dan yang paling berharga. Ini tidak boleh dinodai. Ini tidak boleh disia-siakan.

Paulus benar-benar bersyukur, bahwa orang-orang Kristen Tesalonika menghidupi Injil yang diberitakan kepada mereka. Mereka bertumbuh dalam iman. Mereka saling mengasihi satu dengan yang lain. Mereka tabah dalam penderitaan dan teguh menghadapi penganiayaan. Hidup mereka menjadi teladan bagi masyarakat sekitar. Karena itu mereka layak menjadi warga kerajaan Allah (1: 3-5).

Namun demikian, Paulus juga sadar betul akan tantangan, ancaman, godaan yang sedang diperhadapkan dengan umat Kristen mula-mula itu. Ada pengajar sesat, ada penghianat, ada orang yang meninggikan diri, ada pendurhaka. Mereka adalah hamba-hamba Iblis yang ingin merusak pekerjaan Tuhan di antara orang-orang percaya.

Berbagai cara dan jalan mereka tempuh untuk menyesatkan. Termasuk melakukan mukjizat dan tipu muslihat. Mereka berspekulasi tentang hari kedatangan Tuhan yang membuat orang bingung dan gelisah (2: 1-12). Mereka adalah suruhan si Iblis untuk membawa mereka kepada kesesatan. Paulus mengingatkan mereka, untuk menghadapi semua itu, mereka harus berdiri teguh dalam pengajaran yang benar, yakni Injil keselamatan Yesus Kristus.

Saudaraku, sepanjang sejarah kekristenan, penyesat dan guru-guru palsu selalu hadir di setiap zaman. Dengan segala hikmat duniawi dan kelicikannya, mereka berupa menggoda umat untuk tidak percaya pada Kristus dan kebenaran Firman Tuhan. Cara-cara yang lemah lembut, menarik, menawarkan apa yang diinginkan manusia, hingga cara-cara kasar, mengancam, bahkan membunuh mereka lakukan.

Tujuannya hanya satu, supaya umat Tuhan tidak percaya. Supaya mereka menyangkal iman kepada Kristus. Supaya mereka tidak setia dan taat pada Firman Tuhan. Supaya mereka tidak selamat dan beroleh kemuliaan Kristus.

Padahal itulah yang paling berharga. Anugerah keselamatan yang kita terima melalui iman dalam Yesus Kristus adalah mutiara paling berharga bagi setiap orang percaya. Itu harus kita jaga. Itu harus kita syukuri. Itu harus kita hidupi, dengan berdiri teguh dalam kebenaran Firman Tuhan. Jangan biarkan ada yang mencuri itu dari dirimu!

Dear friends, I wish you a happy Sunday! God calls us to stand firm with our faith in Jesus Christ. Let no one to steal out the most precious thing in your life, which is the salvation granted by our dear Lord Jesus Christ! Be happy and SMILE!

Digiqole Ad

Related post