Baliho : Antara Etika dan Empati Para Elit Politik

 Baliho : Antara Etika dan Empati Para Elit Politik

Sejak Agustus 2021 hingga saat ini ada pemandangan unik di beberapa sudut keramaian di berbagai wilayah di Indonesia. Di tengah Pandemi Covid-19 yang belum kunjung berakhir, marak baliho para petinggi-petinggi partai politik di negara ini yang melahirkan beragam tanggapan dan pandangan dari masyarakat.

Tentu pandangan itu pro dan kontra. Ada yang mendukung namun ada juga yang memberi kritikan pedas. Hal ini terjadi karena kondisi negara yang masih memprihatinkan seolah direspon dengan pencitraan potret “tokoh utama” partai politik besar, yang tentu tujuannya beragam dan berbeda.

Dikutip dari tribunenews.com, Kamis (5/8/2021), pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio tidak menutupi potensi maraknya baliho adalah membangun citra Pemilu 2024. Bahkan kemungkinan para tokoh itu sedang berupaya merebut simpati rakyat dalam kontestasi pilpres yang akan datang.

Tentu ini bukan soal benar salah, namun pertanyaannya apakah hal itu etis dilakukan di saat rakyat sedang berjuang melawan krisis multidimensi akibat Covid-19?

Senada dengan Hendri Satrio,  Desvian Bandarsyah dosen Universitas Hamka, Jakarta, sebagaimana dilansir kompas.id (18/8/2021) menyebutkan perlu dipertanyakan tentang nilai-nilai kemanusiaan dalam diri para elit partai tertentu yang gencar membangun citra melalui pemasangan baliho secara masif di tengah-tengah pandemi Covid-19.

Hal tersebut semakin diperdalam secara praktis oleh analis politik dari Institute for Digital Democracy Yogyakarta, Bambang Arianto sebagaimana dikutip oleh Suara.com (11/8/2021). Arianto mengatakan bahwa aktivitas para elit politik dalam meraih citra dan popularitas dengan baliho di tengah pandemi Covid-19 adalah bukti mereka tidak memiliki empati terhadap persoalan yang dihadapi rakyat. Bisa saja hal itu bersumber dari ketidakyakinan mereka akan elektabilitas mereka sendiri sehingga menghalalkan segala cara untuk mendongkraknya. Padahal semestinya mereka bisa melakukan hal itu dengan melakukan aksi nyata untuk meringankan penderitaan orang banyak akibat krisis yang menghimpit segala aspek kehidupan.

Tentu tidak serta merta semua pihak menyalahkan para elit dimaksud terkait masifnya pemasangan baliho. Politisi PDIP Hendrawan Supratikno sebagaimana dilansir kompas.com (6/8/2021), mengatakan bahwa baliho yang Puan Maharani dipasang sebagai wujud kebanggaan para kader partai sebagai perempuan pertama di negara ini yang menjabat ketua DPR. Tidak ada hubungannya dengan pemilu dan pilpres. 

Senada dengan Hendrawan, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Golkar Maman Abdurrahman sebagaimana dilansir tempo.co (9/8/2021) mengatakan bahwa pemasangan baliho gambar Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto merupakan sosialisasi jargon “Kerja Untuk Indonesia”. Hal itu merupakan bagian dari upaya menyemangati rakyat serta mengajak seluruh pihak bekerja secara bahu membahu untuk Indonesia.

Sementara itu, Waketum PKB Jazilul Fawaid sebagaimana dikutip mediaindonesia.com (14/8/2021) menyebutkan bahwa pemasangan baliho Ketum PKB Muhaimin Iskandar merupakan aksi politis spontan dari kader tanpa instruksi resmi partai. Baliho itu adalah ekspresi penghargaan hari jadi partai sekaligus bentuk nyata dukungan simpati rakyat bagi Muhaimin Iskandar.

Namun apapun itu, biarlah rakyat yang menilainya. Semoga para elit politik atau elit partai di negara ini masih mengedepankan etika dan empati dalam melakukan aktivitas politiknya.

Digiqole Ad

Frengki Napitupulu

Related post