Perkuat Gerakan Pilah Sampah, Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta Sambut Kunjungan KLH / BPLH

Foto Bersama Praeses DKI Jakarta, Pdt. Oloan Nainggolan dengan Esta br. Silalahi, Kementerian Lingkungan Hidup didampingi Pdt. Operancis Simanungkalit, Pdt. Sakarias Simanjuntak, St. Ev. Drg. Nani Samosir dan, St. S. Simatupang
Jakarta, 2 Juni 2026 — Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Pdt. Oloan Nainggolan, S.Th., menerima kunjungan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Kantor HKBP Distrik VIII DKI Jakarta. Kunjungan tersebut diinisiasi oleh Kepala Bidang Diakonia HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Pdt. Operancis Simanungkalit, S.Th., sebagai bagian dari upaya memperkuat kepedulian gereja terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan hidup.

Pertemuan dihadiri oleh Estamina Silalahi dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH. Dari unsur HKBP Distrik VIII DKI Jakarta hadir Pdt. Sakarias Simanjuntak, S.Th., M.Pak.; St. Ev. drg. Nani br. Samosir, selaku Koordinator Divisi Pendampingan Kaum Marginal dan Disabilitas Pokja Marturia; serta St. S. Simatupang, anggota Divisi Lingkungan Hidup.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari Seminar Lingkungan Hidup yang telah diselenggarakan secara daring pada 25 Mei 2026 dengan tema “Sampah: Dari Beban Menjadi Berkat.” Dalam pertemuan tersebut, dibahas langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan gereja untuk mendorong pemilahan dan pengelolaan sampah di lingkungan jemaat.

Pada kesempatan tersebut, Estamina Silalahi menyampaikan bahwa HKBP Distrik VIII DKI Jakarta memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam upaya pengurangan sampah. Dengan jumlah jemaat sekitar 171.987 jiwa, gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten melalui keluarga, gereja, dan komunitas dinilai dapat memberikan dampak nyata terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Pengelolaan sampah yang tidak dikelola dengan baik, akan menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah, TPA Bantar Gebang menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Sejalan dengan target pemerintah untuk menyelesaikan 100 persen persoalan sampah nasional pada 2029, perubahan cara pandang dan kebiasaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Sampah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai barang buangan, melainkan sebagai material yang perlu dipilah dan dikelola agar dapat memberikan manfaat sekaligus mengurangi beban lingkungan. Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu dengan membiasakan pemilahan sampah dari rumah tangga, lingkungan gereja, dan komunitas. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, menjaga kebersihan lingkungan, dan memberikan manfaat melalui pengolahan sampah organik dan pemanfaatan sampah yang masih bernilai guna.

Perlu dilakukan peningkatan kapasitas jemaat melalui kegiatan edukasi dan bimbingan teknis mengenai pemilahan serta pengelolaan sampah. HKBP Distrik VIII DKI Jakarta dapat menjadi pelopor Gerakan Pilah Sampah di lingkungan gereja dan masyarakat, sekaligus menjadi contoh nyata pelayanan gereja yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya merupakan tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari panggilan iman gereja dalam memelihara ciptaan Tuhan.
Menanggapi hal tersebut, Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Pdt. Oloan Nainggolan, S.Th., menegaskan bahwa persoalan sampah tidak boleh diabaikan, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama.
“Mengenai sampah, kita tidak boleh bersikap abai. Kita harus bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan. Bahkan tanpa adanya program pemerintah sekalipun, gereja sudah seharusnya peduli terhadap kelestarian bumi sebagai bagian dari panggilan iman,” tegas Praeses.

Praeses juga menyampaikan dukungannya terhadap program-program pemerintah yang bertujuan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ia berharap kolaborasi antara HKBP Distrik VIII DKI Jakarta dan KLH/BPLH dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan, termasuk melalui kegiatan edukasi dan pelatihan bagi jemaat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik perlu dibangun menjadi budaya dan gaya hidup jemaat. Dengan demikian, kesadaran untuk menjaga lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan sosial gereja. Melalui kolaborasi ini, HKBP Distrik VIII DKI Jakarta diharapkan dapat mengambil peran strategis dalam membangun kebiasaan memilah sampah serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
